Sebuah inspirasi dari acara tica 2018

Sebuah inspirasi dari acara tica 2018

Sebuah inspirasi dari acara tica 2018

Sharing is caring!

Pagi ini agak sedikit istimewa bagi saya. Bangun pagi-pagi tak lupa sarapan dan mempersiapkan diri untuk hadir dalam acara Tokyo-Tech Indonesian Commitment Award (TICA) 2018 yang diadakan oleh PPI Tokodai. Berangkat dari ichinoya dengan bus C10, menuju stasiun tsukuba center. Kali ini saya bersama mas Doni mahasiswa medical sciences.

Perjalanan kesana ditempuh dalam waktu 1,5 jam, sekitar pukul 09.30 kami sampai di kampus Tokyo Institute of Technology (Tokodai). Sesampainya di Tokodai kami melakukan registrasi dan sempat melihat poster finalis dari Indonesia. Acara dibagi dua sesi, yaitu presentasi dari finalis yaitu:

  1. Ayu Liwa Pratama, Dwi Irwanto. Fissile Utilization study of HTGR 50 MWt using UO2, (Th-U)O2, and (Pu-U)O2, mahasiswa dari Department of Physisc ITB
  2. Sri Suhartini. Studies on electricity production using biomass waste via microbial cell fuel technology dari Department of Agricultural Engineering, UB
  3. Dyah sawitri, Nadhira Nurfathia, Isnaeni. Sysntetic Carbon Dots from organic wasteas Ferric (Fe3) Ion sensor. Departement Physic, ITB

Ketiga finalis ini adalah paper terbaik yang terpilih dalam acara ini. Ketiganya mempresentasikan dengan cukup apik penelitian atau kajian mereka.

Sesi siang, kami mendapat wejangan dari Prof. Ir. Panut Mulyono (rektor UGM), Bapak Dahlan Iskan, dan Ibrahiem Arief (Bukalapak). Prof panut memberikan gambaran perspektif akademisi di Indonesia. Beliau menekankan pentingnya softskil diluar kegiatan perkuliahan sehingga mampu beradaptasi dalam era disruptif saat ini. Beliau juga menjelaskan kerasnya tantangan perguruan tinggi dan teknik menghadapinya.

Pak Dahlan Iskan banyak memberikan motivasi bagaimana menjadi praktisi unggul di Indonesia. Lagi-lagi beliau menekankan pentingnya kemampuan softskill dalam meniti karir dalam bidang bisnis atau pekerjaan. Pak Dahlan menekankan juga bahwa pengalaman itu juga penting, sehingga menjadi kompetitif saat bersaing baik dalam mencari pekerjaan ataupun menjadi pengusaha.

Pak Arief, membagi pengalaman bergabung dengan bukalapak. Beliau sendiri lulusan eropa dan masuk bukalapak sejak 2016. Beliau banyak menjelaskan bagaimana unicorn seperti bukalapak bisa berkembang dan bertahan dengan persaingan global. Tentu kesan dan cerita lainnya sangat banyak.

Kesimpulan yang bisa saya peroleh adalah kita harus yakin dengan kemampuan kita. Usahakan untuk terus mengasah, berkolaborasi dan melihat bagaimana trend bidang yang kita geluti. Selanjutnya, mulailah membuka lembaran-lembaran peluang yang ada di depan mata kita. Ambillah keputusan dengan cepat agar kita menjadi orang yang lebih kompetitif.

Salam,
Supriyanto
Dosen Departemen Teknik Mesin dan Biosistem IPB
PhD Student, Life and Environmental Sciences, University of Tsukuba, Japan

supriyanto

Leave a Reply

shares