Sekolah itu membahagiakan

Sekolah itu membahagiakan

Sekolah itu membahagiakan

Sharing is caring!

Bapak kepala sekolah selalu menyambut siswa Azuma Yochien. Setiap pagi Beliau (Enco sensei) akan mengucapkan “ohaiyo gozaimasu” atau “selamat pagi” kepada tiap siswa.

Satu-satu siswanya akan di “touch” atau “tachi”, ya semacam salaman lah kalau di Indonesia.

Saya lihat, ada kegembiraan dari siswa dan seperti simbolik serah terima dari orangtua ke sekolah anak.

Begitupun pulangnya, anak-anak akan berbaris. Sensei akan menjelaskan kegiatan yang telah dilakukan di sekolah. Orangtua diberikan kesempatan untuk bertanya dan mengkonfirmasi agenda kegiatan yang akan datang. Untuk agenda tetap sudah dibagikan di awal semester, termasuk jam pulang serta apakah akan ada makan siang atau tidak.

Selain itu, bapak kepala sekolah juga melakukan kegiatan bersih-bersih dan persiapan berbagai kegiatan sebelum dan sesudah siswa sekolah. Kegiatan ini diikuti oleh guru lain. Beberapa waktu, orangtua murid juga dilibatkan untuk membersihkan lingkungan sekolah. Semacam kerja bakti rutin. Jangan heran, karena disini tidak ada “office boy” ataupun “tukang kebun”. Tapi sekolah tetap bersih, siswa juga bertugas bersih-bersih.

Tentu jika anda praktisi pendidikan di Indonesia, hal ini bisa dikombinasikan dengan nilai-nilai agama dan budaya Indonesia sendiri. Sangat baik, melibatkan seluruh stakeholder terkait untuk terlibat dalam mendidik anak-anak ini menyongsong masa depannya.

Ada hal yang perlu diperhatikan bagi orangtua muslim yang menyekolahkan anaknya di Jepang. Beberapa diantaranya:

1) Makanan Halal: hampir setiap siang anak-anak akan mendapatkan makan siang dari sekolah. Bagi yang muslim dipersilahkan untuk membawa makanan halal (bento) atau “bekal” atau “bontot” sendiri. Sambil jalan dijelaskan ke anak, bahwa makanan ini boleh (halal) dan juga tidak boleh.

2) Penanaman Agama: ini bisa dilakukan saat mengantar mengajarkan untuk membaca doa. Kadang dialog antara “ayah-anak” atau “bunda-anak” akan memperkaya wawasan dan logika mereka. Tidak jarang, pertanyaan anak itu lebih kritis dari kita sendiri. Tentu harus dijawab dengan logis pula, nah bagian ini saya yang kadang keteteran. he he …

Untuk di Tsukuba, ada TPA anak yang dikelola oleh FKMIT bisa menjadi sarana baik juga. Kalau tidak bisa anda juga bisa mengajari anak anda sendiri (ini paling baik) agar pahalanya juga ngalir ke anda.

Selain di sekolah, kita juga membiasakan si anak untuk mengenal makanan halal di luar. Jadi kami menjelaskan ke anak, bahwa ini halal ini tidak. Jadi si anak, memakan bukan hanya karena suka tapi juga karena halal.

Cerita lain, akan dilanjut di lain kesempatan.

Salam Pendidikan

Supriyanto

supriyanto

Leave a Reply

shares