Menghadiri Wisuda teman, antara senang dan sedih

Menghadiri Wisuda teman, antara senang dan sedih

Menghadiri Wisuda teman, antara senang dan sedih

Sharing is caring!

Setiap yang sedang studi di perguruang tinggi pasti ingin lulus. Perayaan kelulusan biasa kita sebut wisuda. Tentu, hari wisuda adalah hari yang sangat bahagia. Saat saya wisuda S1, hari itu adalah hari yang sangat membahagiakan bagi saya. Begitupun saat wisuda S2, rasanya luar biasa senangnya. Tentu, setelah wisuda juga kita merasa senang bahwa satu step kehidupan kita telah terlewati.

Ada perasaan berbeda saat menghadiri wisuda teman-teman di Tsukuba. Ada rasa sedih melepas teman-teman kembali ke Indonesia. Ada hal lain yang tampak terasa sedih juga, saat saya membayangkan harus kembali ke Indonesia dan rasanya masih ingin berlama-lama tinggal disini. Terlalu banyak kenangan indah bersama dengan istri dan putri kecil kami. Walaupun sekarang, tidak bisa dibilang putri kecil karena sudah pintar bercerita dan berargumen dengan ayah dan bundanya.

Perjalanan ini, mengingatkan perjalanan saya waktu kecil. Saat kedua orangtua membawa merantau ke Liwa, saya hanya numpang lahir di Boyolali. Begitu juga putri kami, saya bisa merasakan bagaimana dia dilahirkan di Liwa dan saat masih bayi dibawa ke Bogor. Saat sudah mulai mengerti dan agak besar dibawa ke Jepang. Haru juga, karena sekolah pertamanya tidak di Indonesia tapi di Jepang. Sekolah pertama itu berkesan sekali, saya saja masih ingat bagaimana bahagianya sekolah di sekolah pertama saya (MIN Watas) bersama dengan sahabat kecil saya Armansyah.

Hemm, namun tentu saja saya harus bangun dengan tegar untuk kembali ke Tanah air tercinta. Memulai kembali karir yang sedikit tertunda di IPB. Banyak mimpi-mimpi besar saya yang belum tercapai diantaranya adalah menelurkan publikasi ilmiah sebanyak mungkin bersama dengan kolega dan mahasiswa. Selain itu, saya juga ingin menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi nasional dan internasional. Pun, bekerjasama dengan berbagai instansi pemerintah, petani dan masyarakat Indonesia. Saya ingin terus berbagi untuk negeri yang selalu saya cintai, Indonesia. Saya telah banyak berhutang kepada bangsa yang membesarkan saya dari sejak kecil sampai bisa jadi seperti saat ini. Harapan kecil lainnya adalah ingin menjadi guru besar muda, agar kiprah keilmiah bisa lebih besar manfaatnya.

Tentu, kita juga harus berfikir akan kembali ke kampung halaman kita yang sebenarnya. Kampung akhirat, untuk bertemu dengan pencipta kita. Hidup berbahagia dalam ridho-Allah di dunia dan akhirat adalah cita-cita kita bersama.

Bagi teman-teman yang punya mimpi-mimpi besar, mari bekerja sama. Saya siap menjadi saksi bagi kesuksesan teman-teman. Berbagi kebahagiaan bersama untuk masa depan Indonesia dan generasi yang akan datang. Kita doakan juga anak keturunan kita jadi anak-anak yang sholeh dan sholehah sampai ratusan generasi.

Salam,
Supriyanto

 

 

Banyak kenangan yang ada di Tsukuba. Tentu agak berbeda, karena saat ini saya bersama dengan istri dan putri kecil kami. Kami lewati hari-hari bertiga disini, hampir selalu bersama. Karena asrama dan kampus juga menyatu, jadi nyaris kami tak pernah berpisah disini.

Bukan berarti kami tidak cinta Indonesia, negeri kami. Karena kami selalu mencintai Indonesia tempat lahir dan kami dibesarkan.

supriyanto

Leave a Reply

shares