Iedhul Fitri 1440 di Tsukuba

Iedhul Fitri 1440 di Tsukuba

Iedhul Fitri 1440 di Tsukuba

Sharing is caring!

Iedhul fitri bagi sebagian besar masyarakat Indonesia adalah momen terbahagia sepanjang tahun. Umumnya, setiap keluarga akan berkumpul (reuni) atau istilah indonesianya MUDIK, atau pulang kampung. Acara ini, bisa membuat kota besar seperti Jakarta sepi seketika. Karena seluruh perusahaan, lembaga pemerintah ataupun pebisnis memberikan waktu libur. Waktu liburnya juga bervariasi, antara 1 minggu sampai 2 mingguan.

Saat mudik ke kampung halaman, biasanya akan membawa barang-barang berupa oleh-oleh dari tempat merantau. Tidak melulu dari kota ke desa, ada kalanya juga pulang merantau dari desa ke Kota. Buah tangan ini tentu akan membuat barang bawaan anda sangat banyak. Tidak selesai sampai disitu, saat kembali lagi ke tempat perantauan barang bawaan pun bertambah. Karena umumnya keluarga yang ada di rumah akan membekali anda kue lebaran bahkan tak jarang sampai bumbu kering, bumbu basah, dan beras. Tentu, ada kebahagiaan tersendiri bagi yang memberi oleh-oleh ini ke sana.

Saat pulang ke rumah orangtua, tak hanya menemui orangtua. Tapi biasanya juga akan bertemu teman-teman kecil kita (SD, SMP, dan SMA). Tentu jumlahnya sangat banyak. Tak jarang juga kemudian muncul ide reunipun digulirkan. Membuat waktu anda semakin sempit di kampung halaman. Persaudaraan yang sudah lama dijalinpun kini menjadi erat kembali.

Keadaan ini tentu berbeda bagi kami diaspora (warga Indonesia yang tinggal di luar negeri). Mudik adalah hal yang ekslusif bagi kami, utamanya saya dan keluarga. Selama tinggal 3 tahun di Tsukuba, menikmati lebaran juga di Tsukuba. Hal ini terjadi, karena memang di Jepang tak mengenal libur lebaran, yang kedua sebagai pelajar tentu punya keuangan pas-pasan. Untuk ongkos mudik tentu akan sangat sulit.

Berkah adanya teknologi (internet) tentu sedikit melegakan. Setiap hari, tak harus menunggu lebaran kami bisa berbagi cerita dan informasi antar anggota keluarga. Bahkan sampai-sampai dibuatkan grup komunikasi bagi keluarga kecil (dari ayah dan ibu) sampai keluarga besar (dari kakek – nenek). Tentu, menambah keseruan komunikasi diantara kami.

Setiap perantauan meninggalkan ceritanya sendiri. Dulu saat kami ada di Lampung, kami juga perantau dari desa kecil Boyolali ke sebuah kota kecil (Liwa) yang merupakan ibukota kabupaten Lampung Barat. Tentu, awalnya kami merasa bahwa Liwa bukanlah kampung kami. Setiap saat ada keinginan untuk mudik ke kampung halaman kami di Boyolali. Waktu berganti, berbeda pula kejadiannya saat merantau ke Bogor dan kemudian pindah ke Jepang, maka kami juga rindu kampung halaman kami di Liwa.

Saat tinggal di Jepang, juga bertemu dengan banyak sekali saudara dari Indonesia. Membuat nanti juga kami akan rindu segala suasana Jepang ini. Bahkan sekarang, dimana waktu tinggal tersisa hanya 3 bulan membuat saya juga merasa sudah agak berat meninggalkan kota cantik ini. Hidup di Tsukuba, waktu itu terasa cepat. Kota kecil yang cukup menarik untuk tinggal untuk belajar bersama keluarga. Anak dan istri juga sebenarnya sudah betah tinggal disini. Tentu ini tidak lepas dari keteraturan kota kecil ini, transportasi publik yang sangat baik dan juga layanan kepada masyarakat yang sangat baik. Bahkan, ada yang sangat mahal di kota ini yaitu aman. Sangat jarang terdengar selama 3 tahun tinggal disini ada kemalingan barang yang besar. Kalau di Bogor, hampir setiap saat dengar si anu kehilangan motor, si anu kehilangan anu, dan seterusnya.

Tentu, setiap persinggahan hanyalah sementara. Ini juga mengingatkan bagi saya bahwa dunia ini sejatinya juga persinggahan sementara. Kita akan kembali pulang ke kampung halaman kita yaitu akherat. Tentu, kita berharap kampung halaman kita adalah surga. Maka saat kita sedang merantau ke dunia ini, semaksimal mungkin tujuan kita adalah untuk mudik. Kita hati-hati di dunia, mempersiapkan segala sesuatunya untuk keperluan mudik kita. Untuk masalah waktu mudik, itu sekedar waktu saja. Seperti halnya kami menanti waktu 3 tahun untuk kembali ke tanah air.

Semoga iedhul fitri kali ini, kita semua kembali kepada fitri. Belajar dari pengalaman-pengalaman yang sudah kita lalui. Untuk menjadi manusia pemenang dimanapun kita berada. Tentu kemenangan yang dimaksud adalah semakin banyak manfaat kita untuk oranglain, maka semakin menanglah kita.

Selamat menuju kemenangan.

Tsukuba, 06-06-2019 / 2 Syawal 1440

 

Supriyanto

supriyanto

Leave a Reply

shares