Petani semangka di Jepang: Ibaraki Prefecture

Petani semangka di Jepang: Ibaraki Prefecture

Petani semangka di Jepang: Ibaraki Prefecture

Sharing is caring!

Senin 25 Juni 2019 kami dari rombongan laboratorium yang dibimbing oleh Noguchi sensei dan Tofael sensei mengunjungi petani semangka. Pak Tani ini bernama Fujita san, beliau adalah seorang petani yang ada di kawasan Ibaraki. Lokasinya cukup dekat dengan Gunung Tsukuba (Tsukuba san). Tampak di dalam foto adalah rombongan kami dan latar belakang adalah gunung Tsukuba (tsukuba san). Lokasinya sangat menarik bukan? diantara hamparan sawah-sawah milik petani lainnya yang juga sedang mulai musim tanam di bulan ini.

Suasananya mirip seperti daerah Liwa, cukup dingin. Pak tani ini spesialisasinya di tanaman semangka dan melon (watermelon and melon). Kami diberi kesempatan untuk mencicipi semangkanya yang manis, dan juga diberikan pula untuk dibawa pulang. Tentu, semangka disini harganya cukup mahal, yaitu sekitar 700JPY sampai 3.000 JPY per buah jika kita beli di supermarket.

Setelah berdiskusi dan makan semangka dirumahnya, kami diajak ke kebun semangka. Tanaman ini dibudidayakan di dalam greenhouse type dome. Untuk climate controllnya dilakukan manual dengan menarik tirai di sebelah kiri dan kanan dari greenhouse. Atap nya menggunakan atap plastik, ada beberapa lokasi diberikan shading.

Pada bagian lantai greenhouse, menggunakan plastik hitam perak untuk meminimalkan gulma. Selain itu, agar semangka tidak langsung menyentuh tanah. Model budidayanya dibiarkan merambat di laintai yang sudah digelar plastik hitam perak. Untuk pengendalian hama dan penyakit, mereka masih pakai pestisida yang disemprotkan ke dalam greenhouse. Pemupukan juga menggunakan pupuk kimia.

Tentu, problem di daerah 4 musim seperti ini, tidak semua musim bisa ditanami. Oh iya, kalau dari sisi rasa memang semangka disini seragam dan manis. Petani biasa juga menggunakan brix meter untuk mengetahui total padatan terlarut yang mencerminkan kadar gula dan tingkat kemanisan dari si semangka.

Tahun ini adalah tahun terakhir dari 3 kunjungan saya selama studi. Mudah-mudahan di lain waktu masih bisa berkunjung ke petani Jepang, atau tinggal lebih lama lagi di Jepang.

Salam,
Supriyanto

supriyanto

Leave a Reply

shares