Latest Blog

Artikel-artikel terbaru yang saya tulis untuk membagikan pengalaman kepada anda sekalian. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Himawari #positifenergy

wIni adalah salah satu taman bunga matahari di Tsukuba. Walaupun tidak sebagus bunga matahari lainnya. Paling tidak ini memberikan sedikit pengalaman pengelolaan agro-wisata.

Tiket masuk lokasi ini adalah 300JPY. Jalur-jalur dibuat seperti labirin. Untuk meningkatkan minat anak-anak di setiap sudut labirin itu ada stamp, jadi anak-anak mengumpulkan stamp di kertas yang sudah disediakan. Untuk membuatnya menarik, ada beberapa kotak yang tidak ada stamp nya.

Selain itu, tampak banyak sekali tawon (lebah) yang lalu lalang menghisap madu. Ini juga sepertinya disengaja, dipadukan dengan ternak lebah.

Namun, taman himawari ini hanya bisa ditemukan di musim panas saja. Yang menarik lagi, budaya untuk menjaganya sangat tinggi. Tidak ada satu bunga pun yang rusak atau dipetik oleh pengunjung, kecuali memang sudah diperbolehkan.

Mari yang mau buat taman bunga matahari atau taman lainnya di Indonesia.

Salam,
Supriyanto

Menjadi orang Besar #nasehat

Pernah tidak, anda tanya ke anak-anak atau diri anda sendiri dengan sebuah pertanyaan: cita-citanya mau jadi apa? Ada banyak tentu jawabannya, tergantung dari bagaimana si Bapak dan Ibu mendidik dan menjelaskan cita-cita itu.

Mudahnya, semua ingin jadi orang besar ? orang yang terlihat lebih dari orang lain.

Tapi, kadang masih bingung juga kalau ditanya, orang besar itu seperti apa? Orang besar adalah orang yang bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga dan orang lain. Manfaat itu sendiri bentuknya bisa macam-macam.

Saya mewarisi hobi ngobrol dari kedua orangtua, jadi bentuk kontribusi saya kadang dengan ngobrol dari yang ngalor ngidul dan serius. Kalau punya ilmu, bagilah ilmu anda kepada oranglain. Kalau anda merasa lebih sukses, bagilah tipsnya kepada siapapun yang membutuhkannya.

Terlebih kalau anda punya kelebihan harta, maka bantulah oranglain sebisa kita. Atau ajaran yang paling minimal adalah: jangan pernah menyusahkan oranglain kalau memang tidak bisa membantunya. Tapi ini nilainya zero (minimal), tentu lebih baik daripada negatif (minus).

Kalau anda punya sosial media, bagilah hal positif. Tidak perlu posting hal-hal negatif atau akan mendegradasi moral dan optimisme orang yang membaca. Apalagi sampai menyebarkan kebencian, sehingga akan mengajak oranglain untuk ada rasa benci juga dalam hatinya.

Ada nasehat dari seorang ulama yang cukup melekat: Peluang diterimanya amalan buruk itu lebih besar daripada amalan baik. Kenapa demikian, kalau amalan buruk dikerjakan maka sah, itu sebagai amalan buruk. Kalau kita sendiri yang berbuat buruk secara diam-diam maka akan dapat 1 catatan amal buruk, la kalau amalan kita membuat orang lain ikut beramal buruk juga? tentu ada kontribusi kita disana, tidak perlu menghitung berapa dosanya.

Nah, kalau amalan baik itu masih dilihat lagi apa motivasinya? kalau motivasinya salah, bisa-bisa malah minus (tidak dapat apa-apa plus tambahan catatan keburukan).

Padahal tahukah kita, bahwa niat yang ikhlas itu sangatlah sulit? Jadi perbanyak peluang untuk dapat kebaikan, dengan memperbanyak kebaikan dan niatan yang ikhlas.

Semoga kita selalu jadi orang yang positif dan menyebarkan optimisme kepada siapapun.

Salam,
Supriyanto

Minimalist living (Hidup Minimalis) #Nasehat2019 #001

Kata “minimalis” ini sudah tentu sering kita dengar di kehidupan moderen saat ini. Ada rumah minimalis, desain minimalis, hidup minimalis dan lain sebagainya.
 
Bagi saya, orang Indonesia yang hidup di kampung dan lahir ditengah-tengah keluarga petani. Minimalis sudah menjadi gaya hidup kami. Mulai tinggal di sebuah gubuk minimalis, sampai kemudian tinggal di rumah yang lebih besar.
 
Beranjak dewasa, saya berkesempatan melanjutkan studi atas dukungan dari kedua orangtua. Saat-saat itu, saya tinggal di kosan minimalis (2x3m), makan, dan beli perlengkapan yang bisa dibilang apa adanya. Tidak jarang harus makan dua kali untuk menghemat uang saku. Makan pagi bubur kacang hijau ditambah sobek roti tawar agar terasa kenyang.
 
Sampai akhirnya, Allah beri kesempatan untuk melanjutkan studi S2. Saya tetap tinggal di kosan yang sama (2×3 m). Bahkan tidak pindah kosan sampai menikah dan istri hamil.
 
Saat istri hamil, kami pindah mengontrak di rumah minimalis di sebuah perumahan di Dramaga, Bogor. Sambil menunggu rumah KPR (kredit perumahan rakyat) kami disetujui oleh bank dan selesai pembangunannya.
 
Sampai akhirnya, kami punya rumah minimalis yang harus kami angsur ke salah satu Bank Syariah di Indonesia, melalui bantuan FLPP, program rumah subsidi oleh Kementerian PUPR.
 
Tinggal di rumah subsidi dengan ukuran “minimalis” bersama satu orang putri. Perumahan ini, perumahan baru yang barang tentu fasilitas yang ada juga terbatas.
 
Sampai akhirnya, 2016 kami mendapatkan kesempatan melanjutkan studi di University of Tsukuba Jepang. Mendapatkan tempat tinggal di kamar dengan ukuran 2×4 selama 8 bulan. Fasilitas minimalis, namun lengkap dengan toilet, air, wastafel, dan internet di dalam kamar.
 
Hidup di Jepang dengan beasiswa dari pemerintah dengan anak dan istri adalah episode lanjutan dari hidup minimalis itu.
 
Sampai akhirnya, kami dapat asrama 30m2dan berhasil membawa serta istri dan anak untuk menemani studi. Tempat tinggalnya adalah kamar dengan kamar mandi dalam yang dilengkapi dengan dipan kembar. Kami menyebutnya rumah minimalis yang dapat menampung saya, anak dan istri.
 
Fasilitasnya juga bisa dikatakan lengkap, dilengkapi dengan kamar mandi (air panas), toilet, mesin cuci dan kulkas.
 
Sampai akhirnya tahun ini di bulan Juli, kami mendapatkan tambahan rizki yaitu selesainya program doktor saya dan mendapatkan seorang putra.
 
Saat di Tsukuba, Jepang hidup dengan gaya minimalis ini memang sudah menjadi budaya masyakat. Tempat tinggal (apato) juga bentuknya minimalis tanpa banyak perabot tidak penting. Hal ini, diperkuat lagi dengan regulasi pemerintah yaitu jika membuang barang maka butuh biaya recycle yang cukup mahal.
 
Jadi, hidup minimalis itu sudah menyatu dalam kehidupan kita sehari-hari tanpa terasa. Tentu, kita bersyukur trend minimalis itu ternyata sangatlah baik.
 
Coba kita agak serius sedikit, dengan rumah minimalis berapa energi dan bahan baku bangunan yang kita gunakan. Ingat, semen yang kita gunakan itu menimbulkan dampak lingkungan yang luar biasa. Kalau bicara energi, berapa energi listrik yang kita hemat untuk itu.
 
Hidup dengan perabotan minimalis pun demikian. Banyak dari perabotan kita terbuat dari bahan alam seperti kayu, particle board, semen, pasir, besi, dan aneka bahan alam. Yang kalau kita gunakan semena-mena akan habis dan jadi sampah saat tidak digunakan lagi. Baju, peralatan elektronik dan perabotan pun demikian. Mereka akan jadi sampah dan akan merusak lingkungan.
 
Bahkan jauh sebelum konsep mimimalis ini ada, Al Quran sudah lebih dulu menjelaskannya. Dalam banyak ayat diantaranya:
 
Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan. [al-An’am/6:141).
 
Bagaimana pengalaman anda mengenai hidup minimalis ini. Kita patut bersyukur, jika pernah mengalami dan mensyukuri kehidupan minimalis yang kita jalani. Sampai pada akhirnya kita akan kembali ke liang lahan yang ukurannya minimalis.
 
Salam,
www.supriyanto.net